header780
Tuesday -September, 07 2010 - 06:22:55


iC@llCenter

e-magazine
. 10

Opini Anda

Wira()

Punya pengalaman CSO salah satu provider seluler nelpon berkali-kali, contohnya saja mengadukan saat tidak bisa mengirim MMS, alasannya terkadang kurang memuaskan, mereka memberikan solusi berkali-kali dan saya sudah mengikuti solusi-solusi tersebut, namun tetap saja tidak berhasil. Saya berharap jika call center tersebut tidak tahu penyelesaiannya bilang saja tidak tahu, dan seharusnya jika belum terselesaikan, dari call centernya yang menghubungi kita kembali, bukannya kita yang terus-terusan menghubungi call center kembali.

Riska Amelia()

Yang nanti akan jadi calon call center outbound, dengan adanya call center menunjukkan kesungguhan sebuah perusahaan untuk memberikan pelayanan berkelanjutan untuk customernya. Ia pernah punya pengalaman tidak mengenakan saat menelepon sebuah service provider, saat itu sang agent terkesan malas-malasan melayani dan kurang pengetahuannya.


Isi Opini

[ 1 ]


 

JALAN-JALAN ALA CALL CENTER

Begitu mendarat di Bandara Hongkong, peserta benchmarking yang kelelahan di pesawat, mulai kelihatan cerah. Sambil menunggu semua peserta melewati gerbang pengawasan flu babi dan bea cukai, beberapa peserta sudah mulai foto. Menunggu koper keluar dari ban berjalan, masing-masing mengamati kopernya, kelihatannya semua koper kempes dan siap untuk diisi.

Diantara semua peserta hanya 1 peserta yang tidak lolos pemeriksaan, yaitu peserta dari Bakrie Telecom, terpaksa mendapatkan vaksin. Berhubung beliau sedang mengalami flu berat.

Setelah berkumpul semua, sebuah bus menjemput kita digerbang antar jemput dan siap mengantar semua peserta ke Hotel Empire. Sebuah Hotel dikawasan bisnis yaitu causeway bay. Hotelnya masih baru, begitu sampai di Hotel, masih kelihatan baru dan bersih.

Problem pertama terjadi juga yaitu saat check in, karena nama-nama yang dicantumkan harus disesuaikan dengan nama pada pasport beserta pasangan kamarnya. Jadi semua sibuk untuk mencocokan kamar dan nama pada passport. Berhubung waktu ashar sudah hampir lewat dan umumnya belum sempat sembahyang, maka paniklah panitia untuk mengurus kamarnya.

Setelah semua normal dan semua kembali ke kamarnya, diberikan waktu hanya beberapa menit sebelum bus akan menjemput dan harus berjalan ke area pantai untuk siap-siap makan malam diatas kapal.

Setelah semua siap, ternyata ada saja yang ketinggalan, 2 peserta dari IM2 dan Acer Indonesia ketinggalan bus. Sopir busnya kelihatannya kurang sabaran, padahal sudah ditahan oleh rekan-rekan, tapi ternyata tidak terselamatkan juga. Yah, sudahlah, ditinggal saja, hitung-hitung sebagai kontrol buat rekan, supaya ontime terhadap jadwal yang sudah ditetapkan.

Hari ketiga acara benchmarking, menyempatkan diri ke kawasan puncak di Hong Kong yaitu The Peak. Sama dengan perjalanan ke puncak di Jakarta, jalannya berliku-liku dan sempit, hanya muat untuk 2 kendaraan. Walaupun tidak macet, tapi ditengah hujan yang turun rintik-rintik, cukup memberikan kesejukan tersendiri bagi peserta benchmarking. Untuk kunjungan ke The Peak, tidak ada peserta yang terlewatkan, semua hadir dengan busana yang santai.

Sampai di the peak, wah banyak tempat-tempat yang menarik untuk dilihat, termasuk salah satunya madam tausud. Di madam tausud, menyempatkan melihat-lihat patung lilin beberapa orang terkenal, seperti patung lilin Beckham, Bill Clinton, Obama, Beatles, dari politik, artis, sampai olahragawan.

Beberapa peserta yang tidak tahan untuk belanja mulai kumat penyakitnya, jadilah tempat belanja berbagai souvenir. Walaupun beberapa yang nantinya kecewa karena terlalu mahal, bisa dua kali lipat dari harga pasar pinggir jalan di kawasan Mong Kok.

Selepas dari The Peak, rombongan balik ke hotel untuk sekedar sholat dan menyimpan barang belanjaan, karena sesaat kemudian rombongan akan meneruskan ke Disneyland.

Di Disneyland, mulai dari tiba sampai dengan keluar, kegiatannya foto-foto saja, gayanya sudah seenaknya, tidak peduli dengan orang sekitarnya, pokoknya gaya. Setelah puas dengan berbagai gaya, kali ini harus ditutup dengan belanja souvenir khas disneyland. Walaupun banyak yang pesan supaya belanjanya di bandara saja, tak bisa dibendung ribuan dollar hongkong tetap keluar untuk memuaskan nafsu belanja peserta benchmarking.

Sekitar jam 4 lewat, setelah menunggu beberapa menit di bus, rombongan segera berangkat ke Mong Kok, suatu kawasan dimana pada sore hari digunakan untuk pasar malam. Tempat tersebut dikenal sebagai Lady’s Market, memang banyak peralatan perempuan yang dijual disana. Mulai dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki dijual, termasuk souvenir khas Hong Kong.

Dengan modal hanya HKD100, sudah cukup untuk mendapatkan beberapa kaos atau gantungan kunci atau pembuka botol serta gunting kuku. Bagi yang memiliki banyak staf atau rekan kerja, saatnya untuk membeli souvenir dengan murahnya.

Beberapa peserta sudah berpencar kesana kemari sesuai dengan jenis belanja yang diinginkan, bahkan masih ada yang melanjutkan belanjanya ke kawasan pusat belanja yaitu causeway bay. Walaupun begitu ada juga yang sudah kelelahan dan memilih balik ke Hotel.

Sabtu pagi setelah semua sarapan di Hotel, maka mulailah berbenah untuk siap berangkat ke Airport. Memang sengaja untuk ke Airport lebih awal dengan harapan dapat belanja lagi untuk beberapa pesanan yang masih tersisa.

Ternyata terlalu pagi bagi rombongan untuk tiba di bandara, karena pesawatnya agak delay, maka puaslah Garuda menyandera kita dibandara untuk tetap berbelanja. Suatu hal yang selalu dinantikan oleh rekan-rekan, kayaknya kantong ajaibnya selalu ada untuk hal yang satu itu.

Tepat pukul 18:05 pesawat Garuda lepas landas, dengan sebelumnya ada adegan yang cukup menegangkan karena salah seorang peserta dari BCA yang tertinggal diluar. Tiket dan passport yang seharusnya dia pegang disimpan dalam tas yang dibawa temannya naik pesawat. Jadilah kepanikan dari petugas penjaga counternya, sampai-sampai diharus masuk pesawat untuk mengambil boarding passnya. Lega, perjalanan cukup nyaman ke Jakarta, hanya sedikit turbulansi dan menu makanan di pesawat juga cukup menyenangkan, sehingga banyak juga diantara rekan-rekan terlelap setelah take-off dan menikmati hidangan makan malam.

Sampai di Jakarta kira-kira jam 22:00, semua sibuk menunggu bagasi dan mayoritas dijemput oleh keluarganya, dengan senyum manis berpisah untuk bertemu lagi di Benchmarking berikutnya.


icca
acer